in

Bergunjing Sampai Bengek Dari Sebuah Sudut Pandang Filsafat

Abad-abad terakhir ini muncul sesuatu yang disebut oleh Walter J. Ong sebagai kelisanan sekunder melalui media elektronik seperti telepon (genggam), radio, televisi dan internet. Pada masa dominasi media cetak berlaku slogan “man make news”, namun pada masa dominasi media audio visual seperti saat ini yang berlaku adalah slogan “image make news”. Pergunjingan pun menjadi lebih canggih melalui pengolahan citra, yaitu sesuatu yang tampak oleh indera, akan tetapi tidak memiliki eksistensi substansial.

Citra ini terkait juga dengan hasrat untuk menjadi populer. Meski hasrat seperti ini sudah ada sejak awal keberadaan manusia, kini hasrat tersebut difasilitasi media melalui reality show “pencari bakat”. Seperti pernah dilaporkan dalam suplemen Kampus, kebanyakan para mahasiswa tidak lagi berkumpul untuk berdemonstrasi, tapi berbaris panjang untuk mengikuti audisi. Bahkan orang dari desa terpencil pun bersedia mengorbankan apa saja agar lolos audisi dan menang dengan berbagai cara (bahkan hingga berhutang kepada lintah darat). Menjadi populer berarti keluar dari kemiskinan. Maka televisi pun diramaikan oleh acara semacam itu. Namun, ironisnya, seringkali hasil akhirnya tak sesuai dengan tema awalnya. Misalnya, pemenang reality show menyanyi bukanlah orang yang bersuara paling bagus, tetapi yang kisah hidupnya paling memilukan penonton. Hal ini dikarenakan terlalu mudahnya penonton larut dalam pergunjingan di luar konteks kemampuan menyanyi para kontestannya.

Bukan hanya itu. Kini, berpacaran dengan pesohor atau tampil sekali di sebuah sinetron, seseorang bisa digelari selebritis. Penisbatan inilah yang menjadi modal citra agar menjadi objek incaran media gosip. Umumnya media gosip mengatasnamakan masyarakat yang, konon, berhak tahu (tepatnya: berhasrat menggunjingkan). Meski dilematis, selebritis membutuhkan media gosip untuk melanggengkan popularitasnya, namun konsekuensinya, kehidupan pribadi mereka menjadi seperti berada di bawah mikroskop media. Tak heran, hampir sepertiga acara televisi kita dipenuhi oleh infotainmen. MUI pun angkat bicara, mengeluarkan fatwa mengharamkan infotainmen. Namun, di tengah hiruk pikuk industri media, fatwa itu tak ubahnya jeritan sunyi.

Selain itu, kini televisi diramaikan pula oleh acara bergunjing lainnya, yaitu talk show. Perhatikan dulu Oprah Show. Kebanyakan panelis yang dihadirkan adalah orang-orang biasa yang mempunyai sisi menarik dalam kehidupannya. Perhatikan bagaimana orang-orang biasa itu menjawab pertanyaan Oprah dengan cukup reflektif. Oprah, misalnya, pernah menghadirkan Richard Gere dan Susan Sarandon. Oprah memperlihatkan kepada keduanya foto mereka sewaktu muda dan bertanya apa pendapat mereka tentang orang dalam foto tersebut. Keduanya menjawab dengan refleksi yang nyaris serupa: orang yang ada di foto itu keras kepala, tidak mau menerima saran siapa pun, egois. Bayangkan apabila itu dilakukan pada selebritis kita. Paling reaksinya hanya sebatas berteriak histeris, lalu berujar hal-hal yang tidak penting.

Setidaknya, pengungkapan yang sederhana namun reflektif dari para panelis itulah yang membedakan kualitas talk show di masyarakat Barat dengan di Indonesia. Maklum, bagaimana pun tradisi literasi di kalangan masyarakat Barat jauh lebih kuat, sehingga para panelis tersebut lebih bisa berjarak dari pengalamannya. Sementara Indonesia cenderung bertradisi lisan, sehingga kualitas talk show-nya pun lebih menyerupai pergunjingan, dan terlalu sering diimbuhi lelucon berlebihan. Hal itu disebabkan, salah satunya, ketidakmampuan berjarak para panelisnya dari pengalamannya, karena minimnya tradisi literasi di keseharian masyarakat kita.

Heidegger menegaskan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang bisa bertanya tentang ada: kenapa saya ada di sini, siapa saya, dari mana saya, mau ke mana, dan berbagai pertanyaan eksistensial lainnya. Keadaan “terjatuh” itu disebut Heidegger sebagai faktisitas. Terkait dengan perenungan akan ada tersebut, Yasraf Amir Piliang menganalisis berubahnya ada yang autentik menjadi ada sebagai citra. Orang merasa eksis dan autentik ketika tampil sebagai citra, yaitu ada di dalam televisi, tabloid, internet, dan sebagainya, yang notabene hanya hadir sebagai citra yang tidak autentik.

Terkait citra, Yasraf mengamati bahwa persilangan antara politik, media, dunia hiburan, sosial, dan ekonomi menciptakan semacam kategori ontologi politik berupa ada hibrid. Ada politik kini menjadi bagian tak terpisahkan dari ada sebagai citra. Kini, apa beda antara berita politik dengan gosip infotainmen? Perhatikan bagaimana belakangan ini semakin marak terjadi objek gosip yang juga menjadi objek berita politik.

Selebritis terjun ke dunia politik bukanlah perkara baru di dunia. Namun, di Indonesia tampaknya pertimbangan modal citra yang dimiliki seorang selebritis, meski tak punya pengalaman politik sama sekali, lebih dominan ketimbang pertimbangan visi dan kemampuannya memimpin. Maka, ketika diwawancara tentang apa yang akan dilakukannya seandainya terpilih nanti, ucapan yang meluncur pun lebih menyerupai pergunjingan klise yang tidak memperlihatkan visi untuk kepemimpinannya nanti.

Kegombalan politis seperti ini tak berbeda dengan pergunjingan yang seringkali diusung oleh para politikus non selebritis melalui janji-janji politik ketika kampanye. Yasraf menunjukkan adanya semacam dinding pemantul atau reflektor, sehingga yang tampil di dunia realitas adalah citra murni (berbagai kemasan ide, gagasan, keyakinan, proyeksi dan janji-janji), akan tetapi semuanya tidak pernah menembus dunia realitas, dalam pengertian diinternalisasikan ke dalam berbagai tindakan nyata. Setiap kali citra dan tanda itu akan memasuki dunia realitas, ia selalu berbalik arah dan memantul kembali ke dalam jagat simbiosis ideologi-citra, tidak pernah menjadi realitas nyata.

Bukan hanya itu, Yasraf pun menguraikan bahwa: “Perangkap citra tidak saja melupakan insan politik terhadap perenungan eksistensial, tetapi citra itu sendiri menipu mereka seakan-akan citra itu sendiri adalah eksistensi. Dengan terbenamnya aktor-aktor politik dan dunia politik mereka ke dalam dunia citra, tidak saja gerbang menuju permenungan eksistensi tertutup rapat, akan tetapi lebih jauh lagi ontologi citra itu menawarkan perenungan palsu. Misalnya, ada (tokoh, aktor, institusi) politik di dalam televisi adalah ada dalam bentuk citra (ontology of image), akan tetapi ia dianggap sebagai bentuk keberadaan. Di dalam virtualitas dunia citra, obrolan banal politik (di dalam berbagai media virtual) membenamkan manusia dalam keseharian, yang di dalamnya obrolan banal yang diperantarai oleh media (elektronik, digital) menjadikan berbagai kepalsuan dan kesemuan menjadi bagian inheren dunia politik. Dunia politik yang jatuh dalam perangkap banalitas kesehariannya (misalnya obrolan banal politik di dalam televisi), menjauhkan politik dari alam perenungan ontologis yang mendalam.”

Diakui atau tidak, sebagian besar akademisi Indonesia juga masih terjebak dalam atmosfir tradisi lisan. Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya tradisi sabbathical atau cuti mengajar untuk menulis karya ilmiah. Padahal, jantung kehidupan dunia ilmiah di zaman ini adalah tulisan, bukan ucapan yang tidak dipahat menjadi tertulis. Runyamnya lagi, dengan berbagai alasan penghidupan, para akademisi lebih antusias untuk mengerjakan proyek ketimbang bergiat menghidupkan kegiatan ilmiah. Bahkan, kegiatan penelitian pun sudah berubah menjadi peluang agar bisa mendapat dana untuk membeli mobil baru, bukan pengetahuan baru. Gelar formal akademis lebih sering menjadi kebanggaan ketimbang kualitas keilmuannya yang sebenarnya.

Minimnya tradisi menulis ilmiah di kalangan akademisi Indonesia membuat transfer pengetahuan pun lebih bersifat oral ketimbang tekstual. Akibatnya, seringkali pengetahuan tersebut cenderung bersifat konservatif, terlebih dengan adanya atmosfir feodalisme di banyak perguruan tinggi Indonesia. Dialektika pengetahuan yang tak terjadi secara tekstual, semakin terhambat secara lisan akibat arogansi senioritas.

Memang banyak juga bermunculan komunitas ilmiah, baik di dalam maupun di luar lingkungan kampus. Namun, diskusi yang terjadi di beberapa komunitas itu lebih cenderung berisi gunjingan atau obrolan ngalor-ngidul yang tidak produktif dalam bentuk tertulis. Heidegger menyebutnya sebagai idle talking. Hal ini, misalnya, bisa terasa di beberapa komunitas cendekiawan berlabel Islam yang antusias dengan proyek Islamisasi Pengetahuan. Proyek ini sayangnya seringkali disarati dengan gunjingan pseudo-ilmiah yang dilakukan secara utak-atik-gathuk. Misalnya, mengkaji peristiwa Isra Mi‘raj menggunakan fisika cahaya atau astronomi. Padahal, fisika maupun astronomi tidak pernah mengakui adanya realitas lain selain realitas fisik ini. Lagi pula, perlu berapa juta tahun cahaya bagi Rasulullah saw untuk melintasi galaksi yang belum kita ketahui batasnya ini?

Solusi paling pas untuk menghindari kecenderungan pergunjingan di komunitas ilmiah adalah dengan focused group discussion. Moderator setidaknya bisa menjaga alur pembicaraan agar tidak melantur ke mana-mana, dan setiap partisipan mempunyai kesempatan berpendapat, sehingga ada pendalaman eksplorasi masalah dan diharapkan bisa lebih produktif menghasilkan tulisan-tulisan ilmiah yang bernas.

Meski demikian, manusia itu selalu berkembang dalam hidupnya. Dia tidak akan pernah bisa betah hanya dijejali dengan berbagai bentuk gunjingan di atas. Ibaratnya, tidak mungkin manusia hanya makan permen terus menerus, tanpa pernah mendapatkan makanan dengan asupan gizi, mineral, protein, vitamin dan lain sebagainya, yang dibutuhkan oleh tubuhnya. Oleh karena itu, dalam fase-fase tertentu dalam hidupnya, manusia akan tergerak untuk mencari hal-hal yang lebih esensial dan substantif untuk memperkaya penghayatan hidupnya, meskipun arus kesadaran di sekelilingnya seakan mengondisikannya untuk terus bergunjing sampai mati.

Nah, untuk topik “Bergunjing Sampai Bengek” saja apabila dianalisis dari sudut pandang Filsafat sangat kompleks, kok masih ada yang tega menyebut bahwa belajar Filsafat itu sesat dan menyesatkan? Apakah mereka yang berkata seperti itu termasuk orang yang malas berpikir ataukah mereka memang segolongan orang yang ‘Jahil Murakkab’? Segoblok-gobloknya manusia yang memang masuk dalam golongan yang tidak tahu kalau dirinya tidak tahu dan memang tidak mau tahu bahwa mereka sedang tidak tahu?

2014, Ki Ageng Morrison.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Minix Neo X7

Gnothi SeAuton Meden Agan