in

Filsafat itu adalah ilmu untuk belajar mati

Bagi Sokrates, tidak apa-apa jika ia yang mengalami ketidakadilan, asalkan dia sendiri tidak berbuat sesuatu yang tidak adil kepada orang lain. Dia menghormati hukum demokrasi di Athena, walau pun demokrasi itu dijalankan oleh demos alias massa beringas, dan untuk itu, dia bersedia mendapatkan hukuman yang tidak adil, yaitu harus meminum racun. Perlakuan tidak adil itu dia terima dengan berani, dan dia menolak mentah-mentah ketika para muridnya mengusulkan agar menyuap penjaga penjara sehingga dia bisa melarikan diri.

Apa jadinya semua ajaran yang dia serukan selama ini kepada masyarakat Athena apabila dia malah melarikan diri dari kematian. Padahal Sokrates sendiri menegaskan, bahwa filsafat itu adalah ilmu untuk belajar mati. Hanya philosoma alias pecinta tubuh dan philovictor alias mereka yang cinta kemenangan dalam perdebatan sajalah yang takut menghadapi kematian. Sokrates pun menjadi korban pertama dari demokrasi.

Apakah itu berarti hidup yang Sokrates jalani berakhir dengan buruk? Tidak. Sokrates menganut pandangan truisme, yaitu bahwa semua yang ada dan terjadi dalam hidup ini hanyalah kebaikan semata. Kesalahan dan kejahatan hanya terjadi karena pelakunya tidak tahu dan tidak menyadari bahwa itu adalah salah. Mudah-mudahan Jokowi – Jusuf Kalla tidak menjadi korban berikutnya dari demokrasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Saling Percaya dan Harmoni

Filsafat Keindahan