in

Pemahaman Mengenai Hakikat

Bismillahhirrohmanirrohim, semoga tulisan ini tidak ditafsirkan secara dangkal dan semoga tidak menimbulkan kesesatan bagi yang membacanya. Diharapkan pemahaman yang mendalam dan tidak tekstual dalam mencerna tulisan ini.

Orang yang hanya tahu menjalankan syariat agama tapi tidak memahami ilmu hakikat seringkali mengalami masalah “krisis identitas”. Disatu sisi mereka menjalankan syariat agama, dilain sisi masih melakukan banyak kejahatan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran dan kemanusiaan. Praktik agama yang setiap hari dijalankan ternyata tidak berbekas ke dalam diri mereka sehingga tidak sanggup mengubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Apa gunanya praktik ritual jika tidak diimbangi dengan pengertian spiritual? Praktik formal agama tidak ada artinya jika landasan spiritualnya masih belum terbentuk, bahkan dalam firmanNya disebutkan “Kecelakaanlah bagi orang yang mengerjakan sholat tetapi mengabaikan makna dan tujuan sholatnya. orang yang mengharapkan pujian dan enggan memberikan pertolongan”. Tuhan juga menerangkan bahwa sesungguhnya bukan praktik formal agama itu yang akan sampai dan dinilai olehNya, melainkan ketulusan dan keikhlasan seorang hamba kepadaNya. Bahkan Professor DR. Quraish Shihab mengatakan bahwa bukan amal dan ibadah setiap manusia yang menjadikan dia masuk surga, melainkan itu adalah hak prerogatif Tuhan semata. Dalam hadits juga dijelaskan “Allah tidak melihat pada bentuk harta kita, tetapi kepada hati dan jiwa kita” (Bukhari & Muslim).

Ajaran hakikat bagaikan air yang akan mengobati haus dan dahaga manusia, sedangkan ajaran syariat ibarat gelas yang digunakan sebagai wadah bagi air tersebut. Memperdebatkan bentuk, warna, dan bahan gelas justru akan membuat kita lupa dengan tujuan sejati keberadaan gelas itu yang hanya sekedar sebagai tempat bagi air yang hendak kita minum itu. Saat ini umat Islam terpecah belah dan saling bertikai memperdebatkan dan memperebutkan gelas; akibatnya kita lupa mencari dan meminum air yang sebenarnya kita butuhkan itu.

Biarlah setiap orang menghadap Tuhan dengan caranya sendiri sebagaimana yang mereka mampu, Tuhan tidak akan pernah menolak siapapun yang datang kepadaNya. Tuhan akan selalu menerima dengan tangan terbuka bagi siapapun yang datang kepadaNya, dengan cara apapun dan dari arah jurusan manapun. Tuhan tidak dikotak-kotakkan oleh tempat dan bahasa. Dia mengetahui bahasa apapun yang digunakan manusia untuk menghadapNya. Kadang manusialah yang picik yang selalu merasa lebih tahu tentang Tuhan dan gemar menghakimi dan menyalahkan orang lain, tapi lupa mengoreksi dirinya sendiri yang masih penuh dosa, amarah, keserakahan dan kebencian. Orang-orang seperti inilah yang banyak bicara tentang Tuhan, tapi hakikatnya justru menutupi kemuliaan dan kemurahan Tuhan yang tersebar di mana-mana di seluruh alam.

Syariat hanya sebagai sarana yang akan mengantarkan sampai ke tujuan dan bukan menjadi tujuan itu sendiri. Kalimat ini bukan berarti syariat tidak penting, syariat tetaplah penting, tapi hakikat sebenarnya jauh lebih penting apabila dibandingkan dengan praktik formal yang kaku, kering serta jauh dari makna penghayatan.

Kesalahan yang terjadi selama ini adalah adanya pemahaman bahwa syariat itu bersumber langsung dari Tuhan sehingga ia tidak boleh diganggu gugat dan tertutup bagi dialog serta kompromi (lihatlah bagaimana hebatnya sesama umat Islam sibuk membid’ahkan sesamanya, lihatlah kelakuan segolongan orang yang suka mengkafirkan orang yang tidak sepahaman dengan golongannya) padahal pemahaman semacam ini yang keliru. Misalnya, dalam ilmu syariat diperbolehkan perbudakan serta menggauli hamba sahaya (budak perempuan), hal semacam ini apabila diterapkan di zaman sekarang akan tampak seperti kemunduran dan kembali kepada masa lalu yang masih terbelakang.

Harus dipahami bahwa sebenarnya Tuhan hanya mengatur hal-hal pokok dan prinsip dalam kehidupan ini, adapun mengenai pelaksanaannya manusia bisa menafsirkan dan menyesuaikannya dengan perkembangan zaman. Ingat bahwa ajaran Islam itu mudah, jangan dipersulit (mengutip pendapat KH. Sholahuddin Wahid). Coba bayangkan apabila ada seorang astronot beragama Islam sedang menjelajah bulan, apakah dia harus dan wajib menghadap bumi yang ada Ka’bahnya? dari sini bisa kita simpulkan bahwa syariat itu tidaklah sesuatu yang kaku.

Syariat bukanlah harga mati yang harus dipraktekkan tanpa kompromi. Segala sesuatu sekarang berubah dan berevolusi, maka kita harus bersikap luwes dan fleksibel dalam menghadapi perubahan itu tanpa menhilangkan sendi-sendi keberagamaan tentunya. Namun, hakikat adalah sesuatu yang pasti, karena itulah yang menjadi ruh, jiwa dan esensi agama itu sendiri. Apabila kita sudah memahami ilmu hakikat, syariat apapun bisa digunakan untuk mengabdi dan menyembah kepadaNya (sesuai dengan tuntunan Nabi dan pendapat para ulama-ulama tentunya). Bahkan Nabi pernah mengatakan dalam suatu hadits “tidurnya orang berilmu jauh lebih berkualitas daripada sholatnya orang bodoh”, orang yang bodoh hanya melakukan sholat karena ikut-ikutan tanpa memahami makna dan tujuannya, sedangkan orang berilmu, meskipun tampaknya tertidur, mereka mengerti bagaimana menghadirkan hadirat Tuhan dan bersyukur kepadaNya dalam kondisi apapun.

Hadits Nabi yang lain juga mengatakan bahwa menghadiri majelis ilmu setara dengan pahama sholat 1000 rakaat. Hal ini menunjukkan ketinggian pemahaman atas ilmu hakikat yang jauh melampaui sekadar praktik syariat saja. Dengan semangat Ramadhan tahun ini, sudah menjadi tugas kita untuk mengoreksi berbagai pemahaman dan sistem pengajaran yang kaku, dengan demikian agama tidak lagi menjadi sumber konflik dan masalah, tetapi bisa menjadi sebuah solusi bagi segala masalah kehidupan; sehingga akan tercapai sebuah dunia penuh dengan kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan, hal ini sesuai dengan Islam yang rahmatan lil ‘alamiin.

Bagi sesiapa yang sibuk membid’ahkan sesamanya, cobalah sekali lagi tanyakan pada diri kalian, sudah berapa umat yang kamu muslimkan dengan cara dakwah seperti itu? atau pertanyaannya bisa dibalik dengan sudah berapa umat muslim yang kalian kafirkan? Kebenaran akan tetaplah menjadi sebuah kebenaran walaupun disampaikan oleh mahluk serendah apapun.

Disarikan dari berbagai sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Semesta Memuja

Chrome 83: rollout of DNS over HTTPS (Secure DNS) begins